Haruskah kita membakar pohon untuk energi?

Haruskah kita membakar pohon untuk energi?

http://ift.tt/2DlLYVU

Ketika Parlemen Uni Eropa tengah berdebat tentang perubahan petunjuk tentang energi terbarukan, lebih dari 650 ilmuwan menandatangani sebuah surat yang menuntut sebuah amandemen terhadap definisi direktif biomassa hutan.

Menurut definisi saat ini, negara dan industri dapat dianggap menggunakan ‘energi terbarukan’ yang bersumber dari pepohonan yang terbakar yang ditebang khusus untuk kebutuhan itu. Surat dari para ilmuwan menyatakan bahwa hanya biomassa hutan dari residu dan limbah yang ditinggalkan oleh pohon yang ditebang untuk tujuan lain harus dihitung terhadap target Uni Eropa setidaknya 20 persen energi terbarukan pada tahun 2020. Para penandatanganan memperingatkan bahwa kegagalan untuk membuat perubahan ini berpotensi menempatkan tujuan iklim global, dan hutan dunia dalam bahaya.

Robert Nasi, Direktur Jenderal Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), pada prinsipnya setuju dengan isi surat tersebut, namun menurutnya realitas rantai pasokan biomassa hutan dan dinamika karbon jauh lebih kompleks daripada argumen-argumen tertulis di surat tersebut.

Menjelang pemungutan suara oleh Parlemen di Strasbourg minggu ini, Kabar Hutan mengadakan wawancara singkat dengan Robert Nasi untuk mendengar pandangannya tentang mengapa studi lebih lanjut diperlukan sebagai dasar pengambil keputusan tentang biomassa hutan sebagai bentuk energi terbarukan.

Parlemen UE akan membahas perubahan pada Petunjuk Energi Terbarukan yang mencakup biomassa hutan sebagai sumber energi terbarukan. Lebih dari 650 ilmuwan telah menandatangani sebuah surat terbuka yang menentang elemen Petunjuk tersebut. Apa saja sumber permasalahannya?

Keseluruhan isu tentang kayu sebagai bahan energi cukup menarik dan sudah menjadi topik dalam agenda internasional untuk waktu yang lama. Dalam sistem akuntansi karbon Komisi Eropa, jika Anda dianggap membakar kayu untuk menghasilkan energi, maka hal itu merupakan karbon netral. Jika Anda membakar batubara, Anda harus mengumumkan berapa jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan.

Ada beberapa masalah di sini. Salah satunya adalah kenyataan bahwa membakar kayu bukan karbon netral –  dapat dikatakan sedikit lebih rumit dari yang terlihat.

Ini adalah masalah yang kompleks karena melibatkan waktu, termasuk waktu pemulihan untuk perkebunan; hal ini melibatkan skala, dalam hal bentang alam dan transportasi; serta melibatkan ekonomi, dalam hal apa yang masuk akal secara finansial bagi perusahaan untuk diproduksi dan diekspor.

Surat dari para ilmuwan mendukung penggunaan limbah kayu dan residu untuk bahan bakar, namun menentang penebangan hutan untuk membakar energi mereka. Bagaimana sikap Anda tentang hal ini?

Saya secara pribadi bersimpati pada gagasan tersebut, karena menurut saya, melakukan penebangan hutan alam untuk sumber energi kayu ‘tidak bisa diterima’. Mengangkut pelet kayu atau serpihan kayu dari seberang Atlantik juga ‘tidak dapat diterima’. Namun saya pribadi tidak berkenan untuk menandatangani karena saya juga berpikir ada keuntungan bagi perubahan iklim yang bisa terjadi dengan cara menekan batu bara melalui penggunaan energi kayu secara benar.

Dalam surat ini, tidak jelas apa yang dapat Anda lakukan dengan menggunakan residu dan limbah. Beberapa penelitian menunjukkan bahkan dengan residu Anda dapat memiliki hasil yang sangat menguntungkan atau sebaliknya sangat merugikan. Para penandatanganan tidak benar-benar mempertimbangkan keseluruhan isu perkebunan yang ada, perkebunan cepat tumbuh, dan mereka tidak melihat, menurut saya, suatu proses lengkap berbasis bukti. Itu sebabnya sebagai ilmuwan, saya tidak mau ikut menandatangani.

Masalah lain menurut saya, adalah bahwa surat itu mengirimkan pesan global bahwa energi kayu itu buruk. Padahal sebenarnya ini berdasarkan contoh yang sangat spesifik. Dan saya rasa itu tidak benar.

Apa bedanya antara menggunakan residu dan limbah sebagai bahan bakar, dan menebang hutan untuk membakarnya?

Jika Anda membakar kayu, karena berasal dari sumber daya terbarukan – pepohonan yang akan memperbaiki karbon ke dalam batang, daun, cabang – maka sebenarnya Anda tidak menambahkan karbon ke atmosfer. Jadi publik dapat menegaskan hal itu adalah karbon netral. Ada dua masalah utama dengan itu. Salah satunya adalah kenyataan bahwa Anda perlu memancarkan gas rumah kaca untuk memotong kayu, untuk mengubahnya.

Bahkan dengan residu, beberapa studi – bergantung pada rantai pengolahan yang digunakan – menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca tersebut memiliki emisi gas rumah kaca sebesar 83% lebih sedikit daripada batu bara, atau 72% lebih banyak. Sama jumlahnya dengan residu dari hutan, tergantung bagaimana Anda memberlakukannya, bagaimana cara transportasi, dan bagaimana Anda mengeringkannya. Jadi meski dengan residu, tidak sesederhana itu.

Poin kedua adalah masalah waktu. Jika Anda memotong pohon tegak, Anda akan berhutang waktu. Mungkin sangat baik itu dapat menjadi karbon netral, tapi dalam seratus tahun dari sekarang. Jadi jika Anda tiba-tiba menambahkan sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer, pada akhirnya akan pulih oleh pertumbuhan vegetasi, tapi seratus tahun kemudian.

Jika kita bertujuan untuk mengubah iklim sekarang, itu tidak akan terjadi. Dan ini akan terlambat.

Jadi hal-hal ini merupakan beberapa masalah utama. Satu lagi, yang menurut saya sama sekali tidak dapat diterima, yaitu kenyataan bahwa kita mengangkut pelet kayu dari Amerika Serikat ke Inggris. Dan orang mengatakan kepada Anda, ‘Oh, ini layak secara ekonomi karena pengirimannya sangat efisien’. Sebenarnya, biaya lebih sedikit uang untuk mengirim pelet dari AS ke Inggris daripada mengangkutnya melalui jalan darat sejauh 50 atau 80 kilometer. Jadi Anda menghemat uang, tapi Anda tidak memperhitungkan semua eksternalitas, semua jejak karbon yang tertanam dalam transportasi Anda.

Saya pikir surat ini, masalah ini, mencampur banyak masalah yang berbeda dan ini jauh lebih kompleks sehingga orang ingin mempercayainya. Dan itu adalah kasus yang sama untuk Petunjuk Energi Terbarukan Uni Eropa. Ini adalah penyederhanaan yang berlebihan. Jadi, apa yang akan menjadi cara yang tepat, menurut saya, adalah agar pedoman menyediakan kerangka kerja untuk memastikan bahwa jika kita menggunakan energi kayu, energi kayu ini berkelanjutan dan efektif sehingga pada akhirnya menghasilkan lebih sedikit gas rumah kaca daripada karbon dalam jangka waktu yang ditentukan.

Apa yang Anda sarankan sebagai cara yang lebih baik ke depan?

Akan baik untuk meminta seseorang menjaga para pembuat keputusan menepati janji mereka, dalam hal memastikan bahwa semua elemen diperhitungkan. Tapi bagi saya, surat dari ilmuwan ini termasuk dalam kasus ini, untuk advokasi dan bukan sains. Karena bagi sains ini tidak begitu jelas. Inilah masalah utama yang saya miliki.

Saya pikir apa yang perlu kita miliki adalah studi yang tepat. Dan tidak satu pun dilakukan di bawah agenda yang berorientasi konservasi sepenuhnya, atau di bawah agenda industri kayu, namun oleh agen netral. Kami benar-benar perlu memiliki studi yang tepat mengenai berbagai rantai pasokan – tidak hanya untuk biomassa hutan, tapi juga untuk orang lain – dan kemudian kami perlu mengadakan diskusi nyata antara ilmuwan dan pembuat kebijakan untuk menyusun arahan yang lebih baik.

The post Haruskah kita membakar pohon untuk energi? appeared first on CIFOR Forests News.

Superforest

via CIFOR Forests News http://ift.tt/2xsQew9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s